SINGKAWANG, Penalikenews .com Penumpukan sampah masih menjadi salah satu permasalahan krusial yang dihadapi Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang. Di kawasan Wonosari, masyarakat mengeluhkan gunungan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang semakin tinggi dan meluas. Selain merusak pemandangan, bau tak sedap dari TPS tersebut mulai mencemari lingkungan permukiman warga sekitar.
Kondisi ini mendorong perlunya perhatian khusus serta sinergi nyata antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan seluruh instrumen penanggulangan sampah di tingkat akar rumput. Salah satu instrumen penting tersebut adalah BankSampah Green Swadaya yang berlokasi di Singkawang Barat, Kota Singkawang.
Bank Sampah Green Swadaya sempat beroperasi pada tahun 2024 sebelum akhirnya vakum. Pada tahun 2025, Lurah Singkawang Barat saat itu, Remigius Ronald,S.IP. Memfasilitasi musyawarah pergantian pengurus. Dari musyawarah tersebut, Y.S. Fery Fernando terpilih sebagai Ketua Bank Sampah Green Swadaya yang baru. Bersama jajarannya, Fery berkomitmen membangkitkan kembali operasional bank sampah demi mengatasi masalah sampah kota yang dinilainya sudah masuk tahap darurat.
”Kami telah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk membantu memilah dan menanggulangi sampah di Singkawang. Namun, sejak dilantik hingga saat ini, kami belum memiliki fasilitas penunjang yang memadai seperti armada motor roda tiga (Tossa), sapu, keranjang sampah, hingga tempat operasional yang layak sebagai lokasi penampungan,” ujar Fery.
Memasuki tahun 2026, pengurus Bank Sampah Green Swadaya telah melakukan pertemuan lanjutan dengan pihak Kelurahan Singkawang Barat yang diwakili oleh Lurah Pasiran saat ini Hamdani Bayu Maulana, S.IP. Pihak kelurahan berjanji akan segera merealisasikan pengajuan armada Tossa dan peralatan kebersihan lainnya untuk menunjang kegiatan pengurus.
Keberadaan Bank Sampah Green Swadaya memiliki nilai strategis dalam rantai pengolahan sampah kota. Melalui konsep Reduce, Reuse, dan Recycle (3R), bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampungan sementara, tetapi juga sebagai pusat pemilahan sampah organik dan anorganik langsung dari tingkat rumah tangga.
Dengan optimalnya peran bank sampah:
Dapat Mereduksi Volume ke TPA: Tonase sampah yang dibuang ke TPS Wonosari maupun TPA akhir dapat berkurang secara signifikan.
Edukasi dan Nilai Ekonomis: Warga diajak memilah sampah mandiri sekaligus memperoleh nilai ekonomis (insentif berupa tabungan sampah).
Mencegah Pencemaran Lingkungan: Penumpukan liar dan penumpukan berlebih di TPS dapat ditekan.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Singkawang menyambut baik inisiatif pengaktifan kembali Bank Sampah Green Swadaya. Pihak DLH menegaskan bahwa peran aktif masyarakat melalui bank sampah merupakan mitra strategis pemerintah dalam menyelesaikan persoalan sampah perkotaan.
”DLH Kota Singkawang mendukung penuh pengaktifan kembali Bank Sampah Green Swadaya. Penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan armada dan personel DLH di hilir, melainkan harus dimulai dari hulu melalui pemilahan oleh masyarakat. Kami mendorong koordinasi lintas sektor bersama pihak kelurahan agar bantuan sarana dan prasarana operasional dapat segera terealisasi,” ungkap perwakilan DLH Singkawang.
Fery dan pengurus Bank Sampah Green Swadaya berharap Pemkot Singkawang bersama DLH dapat terus memberikan perhatian, pembinaan, serta fasilitas penunjang yang memadai agar lembaga ini dapat beroperasi secara optimal dan berkelanjutan. (Fery)
Darurat Sampah Singkawang: Bank Sampah Green Swadaya Buka Suara, Butuh Perhatian Pemkot












